Home » » Laila Sulami, Bagian III: Teman Baru

Laila Sulami, Bagian III: Teman Baru

"Aku kerumah Vina tidak hanya berdua. Ada seorang teman sekelasku, namanya Rani Nurani. Orangnya cantik, Bu. Rani dan Vina itu sepertinya baik orangnya, Bu.

“Astaga! Bangun, nak. Bangun, Laila,” terdengar suara dari Ibuku. “Bangun, nak, jangan sampai hari ini seperti kemarin. Kau tak mau telat kuliah lagi, kan? Bangun.”
Pagi ini aku dibangunkan Ibu lagi. Kulihat disekitar kasurku sudah penuh dengan majalah-majalah, buletin-buletin, koran-koran, artikel-artikel dan potongan kliping yang berserakan. Aku baru ingat, semalam aku asik membaca berkas dan dokumen milik kakakku.
“Apa yang kau lakukan dengan semua ini, Laila? Berantakan sekali. Ini kan milik kakakmu. Kenapa kau bikin berantakan seperti ini? Bereskan semua ini sampai rapi. Kemudian, kau lekas mandi.” Ibu meninggalkan kamarku.
“Aduuuh, pusiiing, hoamm... ngantuk,” aku bangun dari tempat tidurku. Aku baru sadar lagi bahwa, cerita mengenai kakakku yang semalam aku baca belum selesai. Lantas aku cari buku catatan pribadi kakakku itu, “Tidak ada! Kemana? Tidak ada,” aku cari diantara artikel-artikel dan majalah-majalah. “Aduuuh, Tidak ada lagi. Kemana ini?” ketika aku sedang serius mencari buku catatan pribadi milik kakakku, aku teringat sesuatu, “Bapak!” aku lihat jam di dinding, “Astaga! Aku harus bereskan ini semua. Tidak mau aku dimarahi lagi oleh Bapak seperti kemarin,” aku bereskan semua dokumen itu. Mengenai buku catatan itu, nanti saja aku cari lagi. Yang penting hari ini tidak seperti kemarin.
*

“Bu, Aku berangkat kuliah dulu,” sembari memasukan buku ke ransel dan merapikan pakaianku.
“Ya,” Jawab ibu yang sedang sibuk di dapur.
“Bapak kemana, Bu?”
“Sudahlah, Kau berangkat kuliah saja. Bapakmu sudah ke ladang sejak pagi tadi.”
Pantas saja tadi pagi tidak ada yang berteriak-teriak, ternyata orangnya sudah tidak ada dirumah.
“Ya, Bu, Assalamualaikum.”
Wallaikumsalam.”

Hari ini adalah hari ke dua aku kuliah. Semoga saja hari ini tidak seperti kemarin. Di hari pertama masuk kuliah dosennya sudah tidak ada. Tapi, setelah aku pikir-pikir kembali, menarik juga kalau ikut organisasi di kampus. Ooh, mungkin kakakku itu masuk organisasi karena dosennya jarang masuk, jadi lebih mencari kesibukan lain. Tapi, gak mungkin juga. Eh, tapi bisa jadi sih. Aduuuh, sudahlah. Tapi, aku salut dan bangga juga punya kakak seperti beliau. Gak nyangka aku punya kakak, andai saja ia masih ada. Mungkin aku bisa cerita-cerita mengenai kuliah dan menanyakan mata kuliah yang aku tak mengerti. Ah, andai saja ia masih ada.
Sesampainya aku di depan kampus, tiba-tiba seorang perempuan menepuk bahuku,
“Hei! Laila. Kamu Laila, kan?”
“Kamu?” aku berhenti sejenak dan menatap wajahnya. Sungguh aku belum mengenl dia. Tentu kemarin aku masih ingat dengan siapa saja aku berkenalan di kelas.
“Aku Alvina, Alvina Peny, teman sekelasmu,” Ia menjabat tanganku.
“Oh, iya. Maaf aku lupa, Aaallvina.”
“Panggil saja aku Vina.”
“Oh, iya. Salam kenal, Vina.”
Langkahku mengikuti langkah kaki Vina menuju kelas.
“Kemarin kita belum berkenalan. Saat mata kuliah filsafat selesai, aku langsung keluar kelas.”
“Oh, iya, pantas saja.”
“Bagaimana tugas filsafatnya, sudah selesai?”
“Sudah, Vin. Bagaimana denganmu?”
Aku duduk di kursi paling depan dan Vina duduk di sampingku. Hanya ada aku dan vina di ruang kelas.
“Sudah juga,” Vina tersenyum kecil, “Eh, Kamu sudah baca novel The Philosophy of Name belum?”
“Belum, baru dengar juga tuh novel.”
“Yah, itu novel bagus loh. Pas banget lagi, setelah aku beres baca novel itu, eh ada tugas filsafat. Sangat kebetulan sekali.”
“Emangnya kamu suka banget, yah, baca novel?”
“Suka. Tapi, novel yang setengah fiksi.”
“Setengah fiksi, maksudnya?”
“Ia, novel yang dibuat dari gabungan fiksi dan non fiksi. Kejadian nyata dalam karangan. Mungkin seperti itu.”
“Oh, seperti itu. Kayaknya seru tuh.”
“Pasti, kamu harus baca novel ini. Nanti aku pinjami kamu deh.”
Aku teringat cerita dari Ibu dengan temannya itu. Mengenai novel dan perjuangannya.
Dibalik pintu kelas ada seseorang yang sedang melirik-lirik kedalam kelas dan kemudian masuk kedalam kelas.
“Hai, Vina. Hai, Laila.”
“Hai Rani,” Vina membalas salam Rani. Kemudian aku menyusul.
“Laila, Kamu gak terlambat lagi?” tanya Rani.
“Gak, Ran, masa terus-terusan terlambat sih.”
“Tapi, kayaknya bukan kita yang terlambat deh. Dosennya saja yang belum datang.”
Aku lihat jam tangan menunjukan jam setengah sepuluh. Betul juga kata Vina.
Satu persatu teman-teman memasuki ruang kelas. Tetapi, aku tidak melihat si rambut gondrong itu. Kemana Dia?
“Hey, Laila, Kau kenapa? Kayaknya ada yang sedang kamu cari,” kata Rani, terheran-heran.
“Gak, gak kenapa-kenapa, Ran.”
“Kamu sedang mencari-cari Dia, yah?” gumam Vina, kemudian tertawa kecil.
“Apa sih, Vin. Siapa sih Dia itu?” balasku, sedikit malu.
Dosen-pun masuk ruangan. Dan dimulailah mata kuliah pertama.
“Maaf, Bapak terlambat. Ah... kita mulai mata kuliahnya. Sebelum masuk ke materi, Bapak perkenalkan dulu. Nama bapak...”
Saat dosen memperkenalkan dirinya, seseorang masuk ke ruang kelas. Ternyata Dia. Seperti kemarin, ia masuk tanpa permisi dan duduk di tempat yang sama. Aku palingkan wajahku kesamping, Vina sedang tersenyum-senyum melihatku. Aku tersipu malu dan merundukan kepalaku sembari menulis tak karuan di buku.
***

            Hari ini mata kuliah semua sudah selesai. Tidak seperti kemarin, dosen sebagai pengajar semua ada. Walau diawal mata kuliah sedikit terlambat. Namun, hari ini aku banyak mendapatkan tugas dari dosen.
            Tepat pukul jam tiga sore. Aku-pun keluar kelas untuk pulang kerumah. Sesampainya diluar kelas, Vina memanggilku.
            “Laila, tunggu,” Vina bersama Rani menghampiriku. 
            “Kamu mau langsung pulang?” kata Vina.
            “Iya, Vin. Soalnya rumahku jauh. Aku takut kemalaman di jalan, Vin.”
            “Tadinya aku mau mengajak kamu bersama Rani ke rumahku.”
            “Iya, Laila, Ikut yah,” sela Rani.
            “Lagian rumahku gak jauh dari kampus kok. Aku kan tadi udah janji mau pinjami kamu novel The Philosophi of Name.
            “Yah, gimana yah. Besok kan bisa kamu bawa novelnya, Vin.”
            “Udahlah, Laila, Ikut aja sih, bentar doang kok,” Rani membujukku dengan paksa.
            “Mmm... ok deh, tapi bentar doang yah.”
            “Iya, iya, bentar doang kok,” kata Rani meyakinkanku.
            Saat kami berjalan, tiba-tiba Vina berhenti di depan Mading.
“Laila, Rani, kesini.”
“Ada apa, Vina?” kata Rani.
Kami pun menghampiri Vina.
“Baca deh.”
“Apa ini? Pelatihan jurnalistik,” kata Rani.
“Iya.”
Tiba-tiba aku teringat cerita semalam. Aku teringat dengan kakakku. Aku perhatikan betul pamflet yang tertempel di mading itu.
“Pelatihannya masih lama, sekitar dua minggu lagi.” Kataku.
“Bagaimana kalau kita ikut pelatihan ini?” saran Vina.
“Boleh, lagian pas hari pelatihan itu kita tidak ada kuliah,” kata Rani.
“Nanti kita pikir-pikir lagi, yah. Lebih baik kita cepat-cepat ke rumahmu, Vin. Jangan sampai aku kemalaman pulangnya.” Kataku dan bergegas menuju rumah Vina.
Arah menuju rumah Vina memang searah menuju rumahku dan memang betul tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke rumah Vina.  
Sesampainya dirumah Vina, aku langsung di ajak masuk bersama Rani ke kamarnya. Aku terkesima melihat kamarnya. Ada sebuah rak buku yang rapi penuh dengan novel-novel.
“Wah, banyak sekali novelnya, Vin,” kataku memuji.
“Kamu berlebihan, Laila, ini tidak seberapa.”
Aku melihat-lihat novelnya. Novelnya begitu tebal-tebal. 
“Ini, Laila, novel The Philosophy of Name itu.”
Tiba-tiba ada suara yang membukakan pintu, kemudian terdengar jelas pintu itu ditutup kembali. Aku masukan novel itu kedalam ranselku tanpa aku lihat-lihat dahulu.
“Siapa itu, Vin, orangtuamu?” kata Rani.
“Bukan, biasanya orangtuaku pulang malam.”
“Terus siapa dong?” Rani heran sekaligus penasaran. Begitupula dengan aku.
Vina tersenyum-senyum sembari melihat wajahku.
“Kalian penasaran pengen tahu, ya?” kata Vina.
Aku dan Rani hanya mengangguk.
“Ayo iku aku.”
Vina mengajak aku dan Rani menuju suatu tempat. Kami berjalan melewati ruangan-ruangan menuju sudut belakang rumah. Ada satu ruangan paling pojok di akhir jalan kami. Kami berhenti di depan ruangan itu. Pintu ruangan itu terbuka, ada seseorang di dalam sana. Aku kaget ketika seseorang terlihat sedang berjalan diruangan itu. Aku langsung memalingkan badanku.
“Laila, kenpa?” Kata Rani, langsung memalingkan badanya ke arahku.
Aku berjalan menuju kamarnya Vina. Rani dan Vina pun mengikuti.
“Kenapa Dia ada disini?” kataku gugup.
Vina tersenyum-senyum.
“Dia itu siapa sih? Kamu melihat siapa tadi?” tanya Rani keheranan.
Mungkin tadi Rani tidak melihatnya—seorang yang ada didalam ruangan itu.
“Vin, kenapa dia ada disini? Dia kakakmu?” bisikku kepada Vina. Vina tersenyum-senyum lagi.
“Namanya, Andre, Andre Rivaldi. Dia itu sepupuku.”
Aku lihat jam yang menempel di dinding kamar Vina menunjukan pukul lima.
“Ya ampun, Vina, lihat sudah jam berapa ini? Rani, kita pulang yuk, aku takut kemalaman.”
Akhirnya, aku dan Rani pulang dengan membawa novel dari Vina. Karena jalan menuju pulang kami berbeda, kita berpisah saat di jalan raya.
Saat menuju pulang kerumah, ada rasa resah dalam hati. Kira-kira, saat aku pulang apa yang terjadi.
Setibanya aku di depan rumah, ayah sudah menunggu diteras. Aku berjalan secara perlahan menghampiri Bapakku.
“Kemana saja kau, pulang sampai malam seperti ini?” Bapak menegurku, suaranya tidak terlalu kencang seperti biasanya.
“Habis dirumah teman, Pak.”
Kemudian, Ibu datang dari dalam rumah dan berdiri di depan pintu dan mengisyaratkan agar aku masuk. Aku masuk rumah dan menghampiri Ibu.
“Kenapa bisa pulang malam, nak?”
“Sepulangnya kuliah aku mampir dulu kerumah temanku.”
“Seperti itu, sudahlah, nanti kau ceritakan pada Ibu teman-temanmu itu tapi setelah kau mandi dan makan malam terlebih dahulu.”
“Iya, Bu.”
***

“Hari ini aku berkenalan dengan teman sekelasku. Dia namanya Alvina Peny. Dia suka sekali membaca novel, Bu. Sepulangnya kuliah, aku di ajak main kerumahnya. Karena dia sudah janji mau pinjami aku novel yang judulnya The Philosophy of Name. Ibu pernah baca novel itu?” Ibu hanya menggelengkan kepalanya, “Dikamarnya itu banyak sekali novel-novel. Bukunya tebal-tebal, Bu. Alvina mengenakan kacamata. Kacamatanya agak lebar. Dia itu orangnya murah senyum.
Aku kerumah Vina tidak hanya berdua. Ada seorang teman sekelasku, namanya Rani Nurani. Orangnya cantik, Bu. Rani dan Vina itu sepertinya baik orangnya, Bu.”
“Ibu sekarang sudah tahu,kenapa kamu pulang malam. Tidak apa-apa kamu pulang malam. Bapak juga tidak akan melarang kamu pulang malam. Hanya saja Bapakmu khawatir. Ingat, nak, kamu adalah anak satu-satunya.”
“Iya, Bu, Laila mengerti. Bu, tadi aku diajak Rani dan Vina untuk ikut pelatihan jurnalistik. Menurut Ibu bagaimana?”
“Loh, kok menurut Ibu sih. Menurut kamu bagaimana? Kan yang jadi mahasiswanya kamu bukan Ibu. Tapi, begini, Ibu Cuma kasih saran kalau sesuatu yang akan kamu lakukan itu bukannya ‘engkau harus’ tetapi ‘aku hendak’.”
“Maksudnya bagaimana, Bu, aku gak ngerti.”
“Maksudnya begini, Nak, sesuatu yang akan kamu lakukan itu bukan dari keharusan seseorang, bukan keharusan dari temanmu dan bukan juga keharusan dari ibu. Tetapi, sesuatu yang akan kamu lakukan itu atas dari kehendak kamu sendiri.”
“Oh, begitu. Tapi aku gak tahu, bu. Aku kebingungan.”
“Pelatihan Jurnalistik, ya? Menurut Ibu bagus juga. Kamu nanti bisa menjadi seorang penulis. Bisa juga menjadi wartawati. Sebenarnya, seperti yang ibu ceritakan pada malam kemarin bahwa kamu, Sulami, namamu itu adalah nama dari teman Ibu. Dia itu seorang jurnalis juga. Ibu ingin kamu itu seperti teman Ibu, Sulami. Tetapi, seperti yang Ibu katakan tadi: bukan ‘engkau harus’ tapi ‘aku hendak’; bukan ‘engkau harus’ menjadi seorang jurnalis tetapi ‘aku hendak’ menjadi seorang jurnalis.”
“Ya, Bu, aku mengerti.”
“Ya sudah, ibu kekamar dulu. Kamu lebih baik tidur.”
Ibu berdiri  dan akan meninggalkan kamarku.
            “Bu.”
“Kenapa, Nak?”
“Gak jadi, Bu.”
Sebenarnya aku ingin menanyakan kepada Ibu mengenai buku catatan pribadi kakakku yang semalam aku baca. Karena setelah aku bereskan semua berkas-berkasnya tidak ada dan ibu orang yang ada di kamarku pagi itu. Sebenarnya aku masih penasaran. Bagaimana akhir dari cerita itu dan bagaimana nasib kakakku sampai-sampai sekarang tidak kembali lagi kerumah.

Aku teringat dengan novel dari Vina. Segera aku ambil novel itu dari ranselku. Novelnya cukup tebal dan sepertinya novel ini dibuat sudah lama sekali. The Philosophy of Name begitulah judul yang tertera di Cover novel itu. Cover novel dengan warna dasar coklat dan tidak tertera nama pengarangnya dan juga tidak tertera kapan novel ini dicetak. Sangat misterius sekali. Aku jadi tidak sabar untuk membacanya. Aku buka novel itu secara acak. Kertasnya pun sangat kasar dan sedikit tebal. “Pantas saja novel ini sangat tebal, ternyata kertasnyapun tebal gini,” pikirku. Kertasnya berwarna coklat dan tulisannya diketik dengan mesin tik. Segera aku kembalikan ke halaman awal untuk memulai membaca novel ini. Aku balikan selembar kertas yang bertuliskan The Philosophy of Name (Filosofi Nama), Kemudian, Bersambung...

PENGETAHUAN

BERITA TERKINI