"Aku kerumah Vina tidak hanya berdua. Ada seorang teman sekelasku, namanya Rani Nurani. Orangnya cantik, Bu. Rani dan Vina itu sepertinya baik orangnya, Bu.”
“Astaga! Bangun, nak.
Bangun, Laila,” terdengar suara dari Ibuku. “Bangun, nak, jangan sampai hari
ini seperti kemarin. Kau tak mau telat kuliah lagi, kan? Bangun.”
Pagi ini aku dibangunkan
Ibu lagi. Kulihat disekitar kasurku sudah penuh dengan majalah-majalah,
buletin-buletin, koran-koran, artikel-artikel dan potongan kliping yang
berserakan. Aku baru ingat, semalam aku asik membaca berkas dan dokumen milik
kakakku.
“Apa yang kau lakukan
dengan semua ini, Laila? Berantakan sekali. Ini kan milik kakakmu. Kenapa kau
bikin berantakan seperti ini? Bereskan semua ini sampai rapi. Kemudian, kau
lekas mandi.” Ibu meninggalkan kamarku.
“Aduuuh, pusiiing,
hoamm... ngantuk,” aku bangun dari tempat tidurku. Aku baru sadar lagi bahwa,
cerita mengenai kakakku yang semalam aku baca belum selesai. Lantas aku cari
buku catatan pribadi kakakku itu, “Tidak ada! Kemana? Tidak ada,” aku cari
diantara artikel-artikel dan majalah-majalah. “Aduuuh, Tidak ada lagi. Kemana ini?”
ketika aku sedang serius mencari buku catatan pribadi milik kakakku, aku
teringat sesuatu, “Bapak!” aku lihat jam di dinding, “Astaga! Aku harus
bereskan ini semua. Tidak mau aku dimarahi lagi oleh Bapak seperti kemarin,”
aku bereskan semua dokumen itu. Mengenai buku catatan itu, nanti saja aku cari
lagi. Yang penting hari ini tidak seperti kemarin.
*
“Bu, Aku berangkat
kuliah dulu,” sembari memasukan buku ke ransel dan merapikan pakaianku.
“Ya,” Jawab ibu yang
sedang sibuk di dapur.
“Bapak kemana, Bu?”
“Sudahlah, Kau
berangkat kuliah saja. Bapakmu sudah ke ladang sejak pagi tadi.”
Pantas saja tadi pagi
tidak ada yang berteriak-teriak, ternyata orangnya sudah tidak ada dirumah.
“Ya, Bu, Assalamualaikum.”
“Wallaikumsalam.”
Hari ini adalah hari ke
dua aku kuliah. Semoga saja hari ini tidak seperti kemarin. Di hari pertama
masuk kuliah dosennya sudah tidak ada. Tapi, setelah aku pikir-pikir kembali,
menarik juga kalau ikut organisasi di kampus. Ooh, mungkin kakakku itu masuk
organisasi karena dosennya jarang masuk, jadi lebih mencari kesibukan lain.
Tapi, gak mungkin juga. Eh, tapi bisa jadi sih. Aduuuh, sudahlah. Tapi, aku
salut dan bangga juga punya kakak seperti beliau. Gak nyangka aku punya kakak,
andai saja ia masih ada. Mungkin aku bisa cerita-cerita mengenai kuliah dan
menanyakan mata kuliah yang aku tak mengerti. Ah, andai saja ia masih ada.
Sesampainya aku di
depan kampus, tiba-tiba seorang perempuan menepuk bahuku,
“Hei! Laila. Kamu
Laila, kan?”
“Kamu?” aku berhenti
sejenak dan menatap wajahnya. Sungguh aku belum mengenl dia. Tentu kemarin aku
masih ingat dengan siapa saja aku berkenalan di kelas.
“Aku Alvina, Alvina
Peny, teman sekelasmu,” Ia menjabat tanganku.
“Oh, iya. Maaf aku
lupa, Aaallvina.”
“Panggil saja aku
Vina.”
“Oh, iya. Salam kenal,
Vina.”
Langkahku mengikuti
langkah kaki Vina menuju kelas.
“Kemarin kita belum
berkenalan. Saat mata kuliah filsafat selesai, aku langsung keluar kelas.”
“Oh, iya, pantas saja.”
“Bagaimana tugas
filsafatnya, sudah selesai?”
“Sudah, Vin. Bagaimana
denganmu?”
Aku duduk di kursi
paling depan dan Vina duduk di sampingku. Hanya ada aku dan vina di ruang
kelas.
“Sudah juga,” Vina
tersenyum kecil, “Eh, Kamu sudah baca novel The
Philosophy of Name belum?”
“Belum, baru dengar
juga tuh novel.”
“Yah, itu novel bagus loh. Pas banget lagi, setelah aku beres
baca novel itu, eh ada tugas filsafat. Sangat kebetulan sekali.”
“Emangnya kamu suka
banget, yah, baca novel?”
“Suka. Tapi, novel yang
setengah fiksi.”
“Setengah fiksi,
maksudnya?”
“Ia, novel yang dibuat
dari gabungan fiksi dan non fiksi. Kejadian nyata dalam karangan. Mungkin
seperti itu.”
“Oh, seperti itu.
Kayaknya seru tuh.”
“Pasti, kamu harus baca
novel ini. Nanti aku pinjami kamu deh.”
Aku teringat cerita
dari Ibu dengan temannya itu. Mengenai novel dan perjuangannya.
Dibalik pintu kelas ada
seseorang yang sedang melirik-lirik kedalam kelas dan kemudian masuk kedalam
kelas.
“Hai, Vina. Hai,
Laila.”
“Hai Rani,” Vina membalas
salam Rani. Kemudian aku menyusul.
“Laila, Kamu gak
terlambat lagi?” tanya Rani.
“Gak, Ran, masa
terus-terusan terlambat sih.”
“Tapi, kayaknya bukan
kita yang terlambat deh. Dosennya saja yang belum datang.”
Aku lihat jam tangan
menunjukan jam setengah sepuluh. Betul juga kata Vina.
Satu persatu
teman-teman memasuki ruang kelas. Tetapi, aku tidak melihat si rambut gondrong
itu. Kemana Dia?
“Hey, Laila, Kau
kenapa? Kayaknya ada yang sedang kamu cari,” kata Rani, terheran-heran.
“Gak, gak
kenapa-kenapa, Ran.”
“Kamu sedang
mencari-cari Dia, yah?” gumam Vina,
kemudian tertawa kecil.
“Apa sih, Vin. Siapa
sih Dia itu?” balasku, sedikit malu.
Dosen-pun masuk
ruangan. Dan dimulailah mata kuliah pertama.
“Maaf, Bapak terlambat.
Ah... kita mulai mata kuliahnya. Sebelum masuk ke materi, Bapak perkenalkan
dulu. Nama bapak...”
Saat dosen
memperkenalkan dirinya, seseorang masuk ke ruang kelas. Ternyata Dia. Seperti kemarin, ia masuk tanpa
permisi dan duduk di tempat yang sama. Aku palingkan wajahku kesamping, Vina
sedang tersenyum-senyum melihatku. Aku tersipu malu dan merundukan kepalaku
sembari menulis tak karuan di buku.
***
Hari
ini mata kuliah semua sudah selesai. Tidak seperti kemarin, dosen sebagai
pengajar semua ada. Walau diawal mata kuliah sedikit terlambat. Namun, hari ini
aku banyak mendapatkan tugas dari dosen.
Tepat
pukul jam tiga sore. Aku-pun keluar kelas untuk pulang kerumah. Sesampainya
diluar kelas, Vina memanggilku.
“Laila,
tunggu,” Vina bersama Rani menghampiriku.
“Kamu
mau langsung pulang?” kata Vina.
“Iya,
Vin. Soalnya rumahku jauh. Aku takut kemalaman di jalan, Vin.”
“Tadinya
aku mau mengajak kamu bersama Rani ke rumahku.”
“Iya,
Laila, Ikut yah,” sela Rani.
“Lagian
rumahku gak jauh dari kampus kok. Aku kan tadi udah janji mau pinjami kamu
novel The Philosophi of Name.”
“Yah,
gimana yah. Besok kan bisa kamu bawa novelnya, Vin.”
“Udahlah,
Laila, Ikut aja sih, bentar doang kok,” Rani membujukku dengan paksa.
“Mmm...
ok deh, tapi bentar doang yah.”
“Iya,
iya, bentar doang kok,” kata Rani meyakinkanku.
Saat
kami berjalan, tiba-tiba Vina berhenti di depan Mading.
“Laila, Rani, kesini.”
“Ada apa, Vina?” kata
Rani.
Kami pun menghampiri
Vina.
“Baca deh.”
“Apa ini? Pelatihan
jurnalistik,” kata Rani.
“Iya.”
Tiba-tiba aku teringat
cerita semalam. Aku teringat dengan kakakku. Aku perhatikan betul pamflet yang
tertempel di mading itu.
“Pelatihannya masih
lama, sekitar dua minggu lagi.” Kataku.
“Bagaimana kalau kita
ikut pelatihan ini?” saran Vina.
“Boleh, lagian pas hari
pelatihan itu kita tidak ada kuliah,” kata Rani.
“Nanti kita pikir-pikir
lagi, yah. Lebih baik kita cepat-cepat ke rumahmu, Vin. Jangan sampai aku
kemalaman pulangnya.” Kataku dan bergegas menuju rumah Vina.
Arah menuju rumah Vina
memang searah menuju rumahku dan memang betul tidak membutuhkan waktu yang lama
untuk sampai ke rumah Vina.
Sesampainya dirumah
Vina, aku langsung di ajak masuk bersama Rani ke kamarnya. Aku terkesima
melihat kamarnya. Ada sebuah rak buku yang rapi penuh dengan novel-novel.
“Wah, banyak sekali
novelnya, Vin,” kataku memuji.
“Kamu berlebihan,
Laila, ini tidak seberapa.”
Aku melihat-lihat
novelnya. Novelnya begitu tebal-tebal.
“Ini, Laila, novel The Philosophy of Name itu.”
Tiba-tiba ada suara
yang membukakan pintu, kemudian terdengar jelas pintu itu ditutup kembali. Aku
masukan novel itu kedalam ranselku tanpa aku lihat-lihat dahulu.
“Siapa itu, Vin,
orangtuamu?” kata Rani.
“Bukan, biasanya
orangtuaku pulang malam.”
“Terus siapa dong?” Rani
heran sekaligus penasaran. Begitupula dengan aku.
Vina tersenyum-senyum
sembari melihat wajahku.
“Kalian penasaran
pengen tahu, ya?” kata Vina.
Aku dan Rani hanya
mengangguk.
“Ayo iku aku.”
Vina mengajak aku dan
Rani menuju suatu tempat. Kami berjalan melewati ruangan-ruangan menuju sudut
belakang rumah. Ada satu ruangan paling pojok di akhir jalan kami. Kami
berhenti di depan ruangan itu. Pintu ruangan itu terbuka, ada seseorang di
dalam sana. Aku kaget ketika seseorang terlihat sedang berjalan diruangan itu.
Aku langsung memalingkan badanku.
“Laila, kenpa?” Kata
Rani, langsung memalingkan badanya ke arahku.
Aku berjalan menuju
kamarnya Vina. Rani dan Vina pun mengikuti.
“Kenapa Dia ada
disini?” kataku gugup.
Vina tersenyum-senyum.
“Dia itu siapa sih?
Kamu melihat siapa tadi?” tanya Rani keheranan.
Mungkin tadi Rani tidak
melihatnya—seorang yang ada didalam ruangan itu.
“Vin, kenapa dia ada
disini? Dia kakakmu?” bisikku kepada Vina. Vina tersenyum-senyum lagi.
“Namanya, Andre, Andre
Rivaldi. Dia itu sepupuku.”
Aku lihat jam yang
menempel di dinding kamar Vina menunjukan pukul lima.
“Ya ampun, Vina, lihat
sudah jam berapa ini? Rani, kita pulang yuk, aku takut kemalaman.”
Akhirnya, aku dan Rani
pulang dengan membawa novel dari Vina. Karena jalan menuju pulang kami berbeda,
kita berpisah saat di jalan raya.
Saat menuju pulang
kerumah, ada rasa resah dalam hati. Kira-kira, saat aku pulang apa yang
terjadi.
Setibanya aku di depan
rumah, ayah sudah menunggu diteras. Aku berjalan secara perlahan menghampiri
Bapakku.
“Kemana saja kau,
pulang sampai malam seperti ini?” Bapak menegurku, suaranya tidak terlalu
kencang seperti biasanya.
“Habis dirumah teman,
Pak.”
Kemudian, Ibu datang
dari dalam rumah dan berdiri di depan pintu dan mengisyaratkan agar aku masuk.
Aku masuk rumah dan menghampiri Ibu.
“Kenapa bisa pulang
malam, nak?”
“Sepulangnya kuliah aku
mampir dulu kerumah temanku.”
“Seperti itu, sudahlah,
nanti kau ceritakan pada Ibu teman-temanmu itu tapi setelah kau mandi dan makan
malam terlebih dahulu.”
“Iya, Bu.”
***
“Hari ini aku
berkenalan dengan teman sekelasku. Dia namanya Alvina Peny. Dia suka sekali
membaca novel, Bu. Sepulangnya kuliah, aku di ajak main kerumahnya. Karena dia
sudah janji mau pinjami aku novel yang judulnya The Philosophy of Name. Ibu pernah baca novel itu?” Ibu hanya
menggelengkan kepalanya, “Dikamarnya itu banyak sekali novel-novel. Bukunya
tebal-tebal, Bu. Alvina mengenakan kacamata. Kacamatanya agak lebar. Dia itu
orangnya murah senyum.
Aku kerumah Vina tidak
hanya berdua. Ada seorang teman sekelasku, namanya Rani Nurani. Orangnya
cantik, Bu. Rani dan Vina itu sepertinya baik orangnya, Bu.”
“Ibu sekarang sudah
tahu,kenapa kamu pulang malam. Tidak apa-apa kamu pulang malam. Bapak juga
tidak akan melarang kamu pulang malam. Hanya saja Bapakmu khawatir. Ingat, nak,
kamu adalah anak satu-satunya.”
“Iya, Bu, Laila
mengerti. Bu, tadi aku diajak Rani dan Vina untuk ikut pelatihan jurnalistik.
Menurut Ibu bagaimana?”
“Loh, kok menurut Ibu
sih. Menurut kamu bagaimana? Kan yang jadi mahasiswanya kamu bukan Ibu. Tapi,
begini, Ibu Cuma kasih saran kalau sesuatu yang akan kamu lakukan itu bukannya
‘engkau harus’ tetapi ‘aku hendak’.”
“Maksudnya bagaimana,
Bu, aku gak ngerti.”
“Maksudnya begini, Nak,
sesuatu yang akan kamu lakukan itu bukan dari keharusan seseorang, bukan
keharusan dari temanmu dan bukan juga keharusan dari ibu. Tetapi, sesuatu yang
akan kamu lakukan itu atas dari kehendak kamu sendiri.”
“Oh, begitu. Tapi aku
gak tahu, bu. Aku kebingungan.”
“Pelatihan Jurnalistik,
ya? Menurut Ibu bagus juga. Kamu nanti bisa menjadi seorang penulis. Bisa juga
menjadi wartawati. Sebenarnya, seperti yang ibu ceritakan pada malam kemarin
bahwa kamu, Sulami, namamu itu adalah nama dari teman Ibu. Dia itu seorang
jurnalis juga. Ibu ingin kamu itu seperti teman Ibu, Sulami. Tetapi, seperti
yang Ibu katakan tadi: bukan ‘engkau harus’ tapi ‘aku hendak’; bukan ‘engkau
harus’ menjadi seorang jurnalis tetapi ‘aku hendak’ menjadi seorang jurnalis.”
“Ya, Bu, aku mengerti.”
“Ya sudah, ibu kekamar
dulu. Kamu lebih baik tidur.”
Ibu berdiri dan akan meninggalkan kamarku.
“Bu.”
“Kenapa, Nak?”
“Gak jadi, Bu.”
Sebenarnya aku ingin
menanyakan kepada Ibu mengenai buku catatan pribadi kakakku yang semalam aku
baca. Karena setelah aku bereskan semua berkas-berkasnya tidak ada dan ibu
orang yang ada di kamarku pagi itu. Sebenarnya aku masih penasaran. Bagaimana
akhir dari cerita itu dan bagaimana nasib kakakku sampai-sampai sekarang tidak
kembali lagi kerumah.
Aku teringat dengan
novel dari Vina. Segera aku ambil novel itu dari ranselku. Novelnya cukup tebal
dan sepertinya novel ini dibuat sudah lama sekali. The Philosophy of Name begitulah judul yang tertera di Cover novel itu. Cover novel dengan warna dasar coklat dan tidak tertera nama
pengarangnya dan juga tidak tertera kapan novel ini dicetak. Sangat misterius
sekali. Aku jadi tidak sabar untuk membacanya. Aku buka novel itu secara acak. Kertasnya
pun sangat kasar dan sedikit tebal. “Pantas saja novel ini sangat tebal,
ternyata kertasnyapun tebal gini,” pikirku. Kertasnya berwarna coklat dan tulisannya
diketik dengan mesin tik. Segera aku kembalikan ke halaman awal untuk memulai
membaca novel ini. Aku balikan selembar kertas yang bertuliskan The Philosophy of Name (Filosofi Nama),
Kemudian, Bersambung...






