Home » » Mari kita santap makanan lezat Saeni.

Mari kita santap makanan lezat Saeni.

Permasalahannya hanya sederhana: di bulan puasa, Saeni, menjual makanan pada siang hari, dan itu melanggar Perda. Ketika di razia ada media. Akhirnya, munculah berita-berita.
Mungkin analisa saya sedikit naif. Tidak seperti orang-orang yang kritis mengomentari kasus ini; Yang sampai pada kesimpulan bahwa Saeni adalah ya'juj, ma'juj. Coba anda bayangkan, orang macam apa pula itu yang dapat menganalisa dengan kedalaman berpikir seperti itu? Luar biasa, saudara-saudaraku!
Tapi begini, yang membuat besar Saeni adalah media. Apakah salah media meliput razia? 
Banyak kok razia, razia yang diliput media. 
Lantas apa yang membuat besar? Situasinya Saeni menjual makanan di bulan puas dan melanggar perda. Banyak, Pak, Bu, Saudara-saudaraku, yang menjual makanan pada siang hari. Masalahnya, apakah makanan itu hanya nasi, apakah di Perda itu(coba deh, cek perdanya) hanya warteg yang harus tutup? Kan banyak warung, toko-toko, restoran, dsb yang menjual makanan(makanan itu bukan nasi aja).
Lantas, apa yang membuat berita ini menjadi besar? 
Saeni dari kalangan kecil dan mendapat tindakan refresip dari aparat. Ini berarti mengenai kemanusiaan.
Dugaan awal: berita yang di kabarkan oleh media menimbulkan kecaman dari masyarakat karena tindakan refresip dari aparat.
Pertanyaannya: 
1. Apakah berita ini di buat-buat(settingan) oleh media?
2. Apakah berita yang timbul ini tujuan akhirnya adalah penghapusan Perda?
3. Apakah berita ini untuk memecah belah bangsa?
4. Apa sebenarnya(saya mengambil kata Aristoteles) "Substansi" dari kasus Saeni ini?
Mari kita buka warung yang sudah ramai diperbincangkan ini. Ada apa di dalam warung Saeni?
Setelah kabar Saeni itu tersiar di pelosok negri, lantas banyak menuai PERBINCANGAN, kemudian disusul dengan REAKSI masyarakat, yang akhirnya timbul AKSI dari masyarakat. Tidak sampai disitu, AKSI itu menimbulkan PERBINCANGAN kembali, kemudian timbul lagi REAKSI dari masyarakat, dan muncul lagi AKSI dari masyarakat. 
Selama masih ada pertentangan (kontradiksi) dialektik dari, entah itu masyarakat dengan masyarakat atau masayakat dengan pemerintah yang timbul dari hasil kasus Saeni ini, sampai kapan pun, tidak akan selesai. Itu akan terus berulang-berputar(gerak). 
Akan tetapi, apakah sama sekali tidak dapat terselesaikan? Saya tidak mau terlalu cepat membuat kesimpulan, tunggu di akhit tulisan.
Bak santapan lezat, kasus Saeni ini menjadi rebutan semua kalangan dalam berbagai kepentingan. Bahan-bahanya hanya: Agama dan hati nurani manusia. Diracik di bulan puasa. Dan tidak ketinggalan bumbu-bumbu penyedap agar ketagihan.
Penyantap paling lahap adalah media. Agar terus menyantap makanan lezat ini, media menyetok bahan-bahan makanan dan terus mencampur-campurkan bumbu penyedap dengan memberikan tagline mengerikan.
Tadinya saya mau berikan artikel ini dengan judul, "Awas, Saeni, Dajjal yang dikabarkan dari Al-Quran,'' misalnya, atau "Saeni ternyata seorang Kominis," atau, judul-judul yang membuat kenyang dengan mencari bumbu-bumbu lainnya agar terlihat menarik dan lezat. Media itu dapat uang dari berita, tidak ada berita itu tidak ada uang. Untuk dapat uang, meracik bumbu-bumbu agar banyak tertarik banyak orang. 
Tidak heran, bahan-bahan racikan Saeni(Agama dan hati nurani manusia) memang banyak di nikmati semua orang. Coba perhatikan di media sosial, pernah melihat seorang atau media yang sering posting dengan gambar yang berdarah-darah, pembunuhan, atau membuat hati kita terpanggil, walaupun gambar itu editan? Kemudian, sang pemilik akun berkata "Katakan Amin," katakan Amin, begitulah cara memancing manusia agar membuat usahanya lancar. Sehingga akun yang mempunyai follower melimpah hasil dari "Katakan Amin," ini berhaga jual yang tinggi, atau website dan blog tersebut dapat dilihat banyak orang dari hasil "katakan amin'' sehingga, iklan-iklan yang muncul di web dan blog dapat mendapatkan hasil pundi-pundi rupiah. 
Atau apakah kalian sering melihat poto mengenai penistaan agama, ka'bah dengan hasil editan yang di injak manusia, editan Al-quran yang di bakar, atau banyak editan-editan lainnya. Tujuannya sama seperti "katakan amin'' tadi "mencari uang".
Saudara-saudaraku, aku beritahu bagaimana cara mendapatkan uang dengan bahan-bahan(agama dan hati nurani manusia) seperti halnya bahan-bahan Saeni yang sangat mantap dan lezat.
Seharusnya saya mengabarkan teman saya Muhamad Khotim Ali seorang youtubers pandeglang, aku ingin mengatakan bahwa, "Hey, kawan, apakah kamu tidak mau mengikuti si gus nur seorang ustad youtube yang kini subscribednya sudah ribuan, penonton dari hasil racikan Saeni ini sudah mencapai ambang pembayaran $540.000, padahal akunnya itu baru barang dua bulan. Lah, kamu, youtubers yang memasukan video ala-ala penyanyi jalanan yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia adsense hanya dapat $120. Harusnya ikutilah si gus nur itu, hanya ngomong soal Saeni dengan menggunakan peci kemudian upload, kalau-kalau ada reaksi masyarakat tinggal bikin lagi deh videonya, buat permintaan maaf kek, atau klarifikasi, nah, kan lumayan nambah lagi penghasilan." (tulisan balas tulisan, bung)
Bagi teman saya lagi, saya tidak menyebutkan namanya, pokoknya yang di sebelas kanan, saya mau mengatakan, "Bro, ini saatnya untuk kamu beraksi, jadikan ini menjadi santapanmu, kecam pemerintah untuk menghapus perda, siapa tahu, bisnismu itu dapat peningkatan di bulan puasa, lumayan kan buat beli baju lebaran. Daripada, selama enam tahun ini kamu hanya mendapatkan hasil sedikit doang.''
Bagi teman saya lagi, saya mau mengatakan, ''Jadikan Saeni ini menjadi alat penggulingan kekuasaan, terus saja kompori masyarakat dengan membackingi media, oramas atau LSM biar caos. Arahkan opini publik kepada elit yang akan kamu lengserkan. Entah itu elit yang ada di derahnya, tetangga derahnya, atau sekalian pemerintah pusatnya. Bereskan. Atau, atas keribuatan ini, jadikan kesempatan buat ngambil-ngambil pundi berkah ramadan, lumayan buat THR, mumpung masyarakat dan media fokus melihat Saeni, gak bakal ketahuan, percaya deh.''
Kasihan, kamu yang baca ini. Masih saja mengikuti kasus-kasus ini Saeni. Masih saja diperalat media, elit dan sekelompok orang. Kasihan bagi kalian yang masih membagi-bagikan tautan propaganda media yang di bumbui agama dan kemanusiaan. Kalian hanya dijadikan alat, dan bahan yang ketiga setelah agama dan kemanusiaan. Kalian hanya mendapatkan penderitaan: kekesalan, amarah, kebencian, dan hal itu menjadikan pelaku menjadi kaya. Mereka pendapatkan kenikmatan dari pada kasus ini, sedangkan kalian mendapatkan apa? 
Bertengkar sesama agama? Bertengkar dengan teman, saudara? Memusuhi sesama manusia. Sedangkan ada sekelompok orang yang tertawa, duduk dengan anggur ditangannya dan cerutu di mulutnya. Mereka menjadikan kesempatan ini untuk masuk mendapatkan kepentingannya, sekelompok orang ini, mereka menertawakan penderitaan kalian. Apakah kalian tidak sadar, saudara-saudaraku. Mereka, gegedugnya itu memanfaatkan media, elit, masyatakat, untuk memecahbelah bangsa. Mereka benturkan masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan pemerintah melalui media dan sekelompok orang yang terorganisir. 
Propaganda itu tidak bisa dihindari. Salah satu untuk melawan propaganda yaitu dengan mengcounter propaganda. Buatlah santapan yang lezat lagi, bila perlu buat selezat mungkin melebihi bumbu-bumbu Saeni. Kalahkan cita rasa, aroma dan kemasan Saeni, agar makanan Saeni terlupakan dengan cepat. Publikasikan santapan yang baru ini agar terkenal dan diketahui oleh masyarakat luas, Agar, perpecahan antar umat beragama bisa dihindari.
Semua manusia bersaudara, sudara-saudaraku. Karena kita, manusia, lahir dari satu keturunan. Karena kita lahir dari satu keturunan, maka semua manusia adalah bersaudara. 
Akurlah dengan saudara kita dengan agama yang lain. Kecuali kalian percaya kalau manusia keturunan dari monyet. Kalian boleh bertengakar dengannya.
Sang pencipta menyadari dan mengerti betul bagaimana menciptakan manusia. Manusia diciptakan dengan berbagai sipat, watak, polapikir, akal dan perasaan. Oleh karena itu, bagimu agamamu, bagiku agamaku.

PENGETAHUAN

BERITA TERKINI